Student One Islamic School

Raising a smart, creative and Quranic Generation

  • Patuhi selalu protokol kesehatan
  • Masker Anda melindungi orang lain
  • Student One menggunakan Microsoft 365 sebagai paltform Pembelajaran Jarak Jauh
  • Mematuhi protokol kesehatan adalah ikhtiar, selanjutnya berdoa dan tawakkal kepada Allah swt
  • Student One masih membuka pendaftaran siswa baru tahun 2021
  • Mari shalat Jumat di masjid Al Madeena Student One
  • Guru dan karyawan adalah asset berharga kami
  • Selamat Mengikuti English Day dan Student Workshop (Kindy SO)
  • Selamat Mengikuti SO Scienta

Lima Perbedaan Walimurid Zaman Old dan Zaman Now

Kamis, 21 Januari 2021 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 216 Kali

Oleh : Ade Sodikin, S.Sos.I. (Principal of SO Primary)

 

Salah satu bentuk ikhtiar orang tua dalam mendidik anaknya adalah menyekolahkan di sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak. Karena tidak dipungkiri kapasitas sebagai orang tua terbatas, misalnya karena harus bekerja sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anaknya. Disamping itu mendidik adalah tugas professional guru. Artinya secara akademik dan professional guru sudah dibekali dengan ilmu-ilmu yang menunjang tugasnya sebagai pendidik.

Ketika anak bersekolah dan menyandang status murid, maka otomatis orang tua menjadi walimurid yang siap bersinergi dengan guru. Menjadi walimurid zaman now tentu saja berbeda dengan walimurid zaman dulu (old). Karena perbedaan kondisi zaman maka dapat diinventarisir beberapa hal yang menbedakannya.

Interaksi Menggunakan Media Sosial 

Perkembangan teknologi turut mempengaruhi cara interaksi antar walimurid. Sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, antar walimurid baru bisa bertemu ketika ada pertemuan walimurid resmi dari sekolah seperti penerimaan rapor tiap semester. 

Zaman sekarang komunikasi dimudahkan adanya media sosial (medsos). Untuk memudahkan komunikasi dengan walimurid, wali kelas membentuk forum atau grup online di media sosial tertentu. Namun tidak jarang walimurid membentuk grup medsos antar mereka tanpa wali kelas di dalamnya. Hal ini sah-sah saja bila memang diperlukan untuk mendiskusikan hal-hal positif yang lebih nyaman dibahas tanpa adanya pihak luar walimurid

Di forum tersebut, masing-masing walimurid bisa saling mengenal lebih dekat secara personal. Disamping karena memiliki kepentingan yang sama terkait pendidikan anak-anaknya, secara umum umur mereka tidak jauh terpaut, sehingga secara emosional relative sama. Last but not least mereka sama-sama generasi milenial.

Tidak cukup bertemu di dunia maya, para walimurid mengadakan kopi darat rutin. Pertemuan ini dilaksanakan dengan bertemu langsung. Tempat bisa dirundingkan terlebih dahulu misalnya di rumah salah seorang walimurid ataupun, mulai dari agenda “sarapan bareng”, olahraga, liburan sampai arisan bulanan yang tempatnya berpindah-pindah. Tidak dapat dipungkiri aktivitas ini juga kerap melahirkan kegiatan-kegiatan positif seperti kajian ilmu/pengajian, penggalangan dana untuk membantu korban musibah, beasiswa, dan aksi sosial lainnya.

Terlibat dalam Tugas Anak 

Walimurid zaman dulu cenderung mempercayakan semua tugas sekolah kepada anaknya. Mereka hanya memfasilitasi agar anak bisa mengerjakan tugasnya dengan lancar. Berbeda dengan walimurid zaman sekarang yang lebih banyak mengambil peran ketika anak mendapat tugas dari sekolah.

Bahkan, ada walimurid yang nekat mengerjakan prakarya anaknya dari rumah. Padahal tugas tersebut harusnya dikerjakan oleh sang anak di kelas bersama teman-temannya. Entah apa alasan yang mendasari tindakan tersebut, tapi yang pasti tidak sedikit walimurid yang melakukan hal itu.

Ada dua kemungkinan walimurid melakukan hal tersebut, yaitu  tidak percaya sepenuhnya bahwa anak bisa melakukannya sendiri atau terlalu menyayangi anak. Mereka tidak menyadari jika tindakannya justru membawa dampak yang kurang bagus untuk anak. Anak menjadi kurang percaya diri dan kurang mandiri.

Penasaran dengan Proses Pembelajaran di Sekolah

Salah satu ciri walimurid zaman sekarang adalah yang selalu update foto kegiatan anak saat di sekolah.  Dari mana mereka mendapatkan foto-foto tersebut? Karena ingin tahu kegiatan terkini anak-anaknya di sekolah mereka tidak segan untuk minta kepada walikelas maupun guru lainnya untuk mengirimkan foto anak-anak saat belajar di kelas. Sekalipun bukan tupoksi sebagai walikelas tapi karena kedekatan hubungan komunikasi maka dengan sukarela walikelas membagikannya.

Tugas wali kelas zaman sekarang bertambah yaitu mengabadikan proses pembelajaran. Apalagi jika proses pembelajaran berada di luar kelas atau sedang ada kegiatan spesial di sekolah, maka wali kelas akan “ditodong” foto-foto kegiatan anak-anak oleh walimurid.

Padahal, mengkondisikan sejumlah murid di kelas saja sudah menyita energi. Meminta wali kelas menjadi fotografer dadakan kadang terkesan berlebihan. Mungkin ketika anak-anak tenang, memotret kegiatan mereka tentu begitu mudah. Tapi, ketika semua anak bertingkah aktif, prioritas wali kelas adalah menghandel anak-anak. Belum lagi kesan negative bila mengoperasikan gadget pada saat melaksanakan tugas yang mengesankan tidak serius bekerja.

Namun, banyak walimurid zaman sekarang yang melontarkan pernyataan kecewa ketika tidak mendapat foto anak-anak selama proses pembelajaran di sekolah. Ada yang secara terang-terangan menanyakan kepada wali kelasnya, ada juga yang hanya membahasnya di forum walimurid saja.

Hal ini tentu berbeda dengan walimurid zaman dulu yang cenderung menyerahkan semua proses pembelajaran kepada guru di sekolah. Mereka melepas anak-anaknya menuntut ilmu dengan doa-doa panjang semoga proses pembelajaran di sekolah berjalan lancar. Walimurid zaman dulu hanya berinteraksi dengan wali kelas ketika anak tidak masuk atau saat pertemuan pengambilan rapor.

Khawatir Berlebihan Terhadap Anak

Fakta lain dari walimurid zaman sekarang adalah mudah khawatir terhadap kondisi anak. Mereka sangat khawatir dengan nilai anak yang turun meskipun hanya satu angka. Bahkan, penilaian harian (PH) yang dijalani anak di sekolah menjadi bahasan yang sangat serius di grup walimurid. Mereka panik jika guru tidak segera memberikan kisi-kisi menjelang PH.

Walimurid zaman sekarang juga khawatir ketika anak mengikuti kegiatan outdoor,  hingga ada sebagian yang nekat membuntuti bis yang membawa anak-anak karya wisata ke luar kota. Meskipun pihak sekolah sudah mengeluarkan peringatan keras akan meminta walimurid membawa pulang anaknya jika nekat melakukan hal itu. Tapi mereka mengabaikan peringatan dari pihak sekolah karena sangat khawatir dengan anaknya.

Kekhawatiran walimurid zaman sekarang tidak sampai di situ saja.  Hal-hal sederhana seperti bagaimana anaknya ke kamar mandi, bagaimana anaknya makan di kelas, serta bagaimana anaknya memakai baju ganti setelah olahraga menjadi sesuatu yang dicemaskan oleh mereka.

Terlalu Cuek dengan Perkembangan Anak

Walimurid zaman sekarang juga ada yang cenderung cuek dengan perkembangan anaknya. Kesibukan sebagai pekerja menjadi salah satu alasan tidak sempat memperhatikan perkembangan anaknya secara detail. Waktu bertemu anak tidak banyak. Mereka hanya bertemu pagi hari. Ketika pulang kerja, anak sudah tidur pulas. Sehingga tidak punya kesempatan menanyakan apa yang dilakukan anak selama di sekolah.

Ada juga walimurid yang terlalu cuek dengan perkembangan anaknya meskipun paham jika anaknya sedikit berbeda dengan anak lainnya secara emosional. Walimurid jenis ini lebih banyak meminta guru untuk mengkondisikan anaknya. Karena mereka berpikir telah membayar mahal sekolah anaknya, sehingga apa yang terjadi dengan anak di sekolah adalah tanggung jawab guru.

Mereka tidak peduli jika kondisi emosional anaknya sedang labil di sekolah bisa menyakiti temannya seperti memukul. Walimurid tipe ini menganggap hal yang dilakukan anaknya adalah sesuatu yang wajar sebagai anak-anak. Mereka tidak berusaha mencari tahu penyebab anak berulah di sekolah.

Tidak hanya urusan emosional, ada juga walimurid yang terlalu cuek dengan perkembangan belajar anaknya. Ketika tiba-tiba nilai anaknya jatuh tidak seperti biasanya, mereka enggan mencari penyebab turunnya semangat belajar anaknya. Mereka lebih memilih memarahi sang anak karena tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan orang tuanya.

Itulah walimurid zaman sekarang. Jadi, jangan kaget jika baru pertama kali menjadi walimurid dan berinteraksi dengan mereka. Namun, tidak semua walimurid demikian. Masih banyak yang peduli dengan perkembangan anak-anaknya. Masih banyak yang membebaskan anak untuk berkreasi. Dan masih banyak yang percaya kepada kemampuan anaknya dan mengajari kemandirian pada anak.

***

Ed. : O_pick

 

 

 

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...