Oleh: Sultan Haji Nasution
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Banyak pendakwah atau entrepreneur yang menggaungkan tentang perubahan nasib dengan membawa penggalan sebuah ayat yang berbunyi innallaha la yughayyiru ma bi qoumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim (Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka). Potongan ayat ini seringkali dipelintir oleh para pendakwah ataupun entrepreneur untuk menarik audiens untuk mengikuti atau membeli sesuatu yang mereka promosikan, sehingga banyak sekali masyarakat yang tertipu dan salah memahami ayat ini. Oleh karena itu, mari kita bedah apakah perubahan nasib ini sesuai dengan realita kehidupan yang diinginkan yaitu perubahan nasib yang berkonotasi negatif ke positif atau justru sebaliknya, perubahan positif ke negatif?.
Allah berfirman:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’d: 11)
Pada awal ayat ini menjelaskan bahwa setiap manusia atau individu memiliki penjaga yaitu para malaikat-malaikat Allah yang secara bergantian, ada malaikat yang berjaga di siang hari dan dimalam hari, ada yang berjaga di belakang dan didepan, ada yang mencatat amal baik dan buruk, semua itu atas perintah Allah swt. (Tafsir Ibnu Katsir) Dalam hadis dijelaskan
يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ
Artinya: Ada beberapa malaikat yang menjaga kamu secara bergiliran di malam hari dan di siang hari. Mereka bertemu (untuk mengadakan serah terima) pada waktu shalat Subuh dan shalat ashar. (HR. Bukhari)
Penggalan ayat ini menjelaskan kepada kita harus senantiasa takut untuk melakukan maksiat kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh Allah setiap waktu.
Setelah Allah menjelaskan bahwa manusia selalu diawasi oleh Allah, maka selanjutnya Allah menjelaskan tentang perubahan.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا
بِاَنْفُسِهِمْ (Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka).
Ibn
Jarir At-Thabari mengatakan bahwa perubahan berupa kebaikan dan nikmat kepada
perubahan yang dapat membinasakan mereka yaitu akibat kezaliman di antara
mereka, dan jika mereka terus melakukan pelanggaran maka hukuman dan perubahan
akan menimpa mereka. (Tafsir Ath-Thabari). Sebagaimana perubahan yang dilakukan
oleh orang yang mengakibatkan kekalahan pada perang Uhud. Dan makna ini ayat
bukanlah hukuman akibat dari kesalahan yang telah dilakukan oleh pribadi,
melainkan hukuman sebab kesalahan orang lain. (Tafsir Al-Qurthubi).
Suatu hari
Rasulullah pernah ditanya “Apakah kita akan binasa padahal sebagian dari kita
adalah orang-orang yang sholih? Rasulullah menjawab: Ya, jika banyak keburukan.
(HR. Bukhari) Alusi menafsirkan kata taghyir dengan tabdil yaitu
mereka mengganti kenikmatan dan kebaikan kepada yang sebaliknya yaitu
keburukan. (Tafsir Alusi). Tafsir Kemenag mengatakan bahwa Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu bangsa dari kenikmatan dan kesejahteraan yang
dinikmatinya menjadi binasa dan sengsara, melainkan mereka sendiri yang
mengubahnya. Hal ini diakibatkan oleh perbuatan aniaya dan saling bermusuhan
dan berbuat kerusakan dan dosa dimuka bumi ini.
Setelah menjelaskan tentang perubahan dari positif kepada yang negatif, Allah menjelaskan bahwa kalau Allah sudah menurunkan hukuman terhadap siapa yang Allah inginkan maka tidak akan ada yang bisa menolak, tidak akan ada yang bisa menghindarinya.
Penjelasan ini memiliki munasabah atau hubungan dengan QS. Al-Anfal ayat 53:
ذَالِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ یَكُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِیعٌ عَلِیمٌ
Artinya: Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Maka dari penjelasan ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan kondisi disini adalah perubahan kondisi positif menjadi negatif, yang awalnya bahagia dan sejahtera menjadi sedih dan sengsara. Selain itu, perubahan kondisi disini bukanlah perubahan kondisi individu, tetapi perubahan kondisi masyarakat atau sosial. Dan ayat ini bukanlah perubahan nasib yang seringkali dikonotasikan sebagai perubahan dari kondisi miskin menjadi kaya.
Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh